DI BALIK TRADISI BAANTARAN JUJURAN: Simbol dan Makna Perkawinan Adat Banjar dalam Perspektif Hukum Islam

Main Article Content

Humaira
Nasrun Jauhari

Abstract

The Baantaran Jujuran procession constitutes an essential element in the sequence of Banjar customary marriage rituals, which continues to be preserved and regarded as sacred as part of ancestral heritage. This tradition embodies cultural symbols that carry significant social functions and normative values, while Banjar society, predominantly Muslim, adheres to Islamic law as the principal guideline in the implementation of marriage. This study aims to analyze the symbols and meanings embedded in the Baantaran Jujuran procession and to examine its legal standing within Banjar customary marriage from the perspective of Islamic law. This research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach, drawing upon library research and relevant field data, framed within an Islamic legal analysis based on the concept of ‘urf and the principle of maslahah. The findings indicate that the symbols present in the Baantaran Jujuran procession consistently appear in every Banjar customary marriage and function as representations of respect, responsibility, and the readiness of the prospective groom to establish a household. This tradition serves not merely as a ceremonial ritual but also as a social mechanism that strengthens kinship relations and provides social legitimacy to the marriage. The study concludes that the Baantaran Jujuran procession may be classified as ‘urf ṣaḥīḥ, as it does not contradict the principles of Islamic law and contains values of maslahah that are relevant to the objectives of marriage in Islam.


Contribution: The contribution of this research lies in strengthening Islamic legal studies grounded in local wisdom, while also offering an analytical framework for integrating customary traditions with Islamic normative principles in the marital practices of Muslim communities.


[Tradisi prosesi baantaran jujuran merupakan bagian penting dalam rangkaian perkawinan adat Banjar yang hingga kini masih dilestarikan dan dipandang sakral sebagai warisan leluhur. Tradisi ini mengandung simbol-simbol budaya yang memiliki fungsi sosial dan nilai normatif, sementara masyarakat Banjar secara mayoritas beragama Islam yang menjadikan syariat sebagai pedoman dalam pelaksanaan perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbol dan makna yang terkandung dalam prosesi baantaran jujuran serta menilai kedudukannya dalam perkawinan adat Banjar dari perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui studi kepustakaan dan data lapangan yang relevan, dengan kerangka analisis hukum Islam berbasis konsep ‘urf dan prinsip kemaslahatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam prosesi baantaran jujuran secara konsisten hadir dalam setiap pelaksanaan perkawinan adat Banjar dan berfungsi sebagai representasi penghormatan, tanggung jawab, serta kesiapan calon pengantin laki-laki dalam membangun rumah tangga. Tradisi ini tidak hanya berperan sebagai ritual seremonial, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang memperkuat relasi kekeluargaan dan legitimasi sosial perkawinan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa prosesi baantaran jujuran dapat dikategorikan sebagai praktik ‘urf aī karena tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam dan mengandung nilai kemaslahatan yang relevan dengan tujuan perkawinan dalam Islam.]


Kontribusi: Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian hukum Islam berbasis kearifan lokal, sekaligus memberikan kerangka analitis bagi integrasi antara tradisi adat dan norma syariat dalam praktik perkawinan masyarakat Muslim.

Article Details

Section
Articles

References

Al-Qur’an al-Karim

A. Rahmawati,” Stratifikasi Sosial dan Tradisi Pernikahan di Indonesia,” Jurnal Sosiokultur, no 3, (2019).

A.R. Radcliffe-Brown, Structure and Function in Primitive Society, (London: Cohen & West, 1952).

Ahmad Izzuddin, “Menakar Mahar:Studi Tentang Masyarakat santri di Desa Karangbesuki Sukun, Kota Malang” sabda Volume 14, No 1, (Juni 2019).

Ahmad Warson Munnawir, Al-Munnawir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984).

B. Santoso, “Peran Sosial Ekonomi dalam Perkembangan Tradisi Seserahan,” Jurnal Sosialogi Masyarakat, no 1, (2021)

Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures, (New York: Basic Books, 1973).

Darssono,Simbolisme dalam Tradisi Pernikahan Adat, Jurnal Budaya Nusantara, Vol. 5, No. 2, 2020.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2005).

Eko Haryonto, “Makna Simbolik dalam Tradisi Adat Jawa” Jurnal Kebudayaan Indonesia, Vol. 5, No. 2, 2020.60.

Hari Widiyanto, “Konsep Pernikahan dalam Islam Studi Fenomenologis penundaan pernikahan di masa pandemi” 2020 106. DOI: https://doi.org/10.33852/jurnalin.v4i1.213.

Iffah, Muzzamil, “Fiqh Munakahat: Hukum Pernikahan dalam Islam, “(Tanggerang, 2019).

Muhammad Mustofa, Fiqh Munakahat: Kajian Hukum Perkawinan Dalam Islam (Jakarta: Prenada Media, 2019).

N. Putri “Dinamika Generasi Muda dalam Tadisi Lokal.” Jurnal Antropologi Genererasi, no. 4, (2023).

Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, (Surabaya: Al-Haramain, 1996).

NU Online, Al-Qur”an Surah Ar-Rum ayat 21, diakses 10 April 2025, https://quran.nu.or.id/ar-rum/21

Rukayah, Wawancara (Kasiau, 5 April 2025).

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz 2, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1990).

Siti Fatimah, “Tradisi Seserahan dalam Prosesi Pernikahan: Studi pada Masyarakat Jawa Timur” Jurnal Budaya danTradisi Nusantara, Vol. 3, No. 1, 2019, 10-12.

Umi Sumbulah, ”Ketentuan Perkawinan Dalam Khi Dan Implikasinya Bagi Fiqh Mu’asyarah: Sebuah Analisis Gender”, Egalita, 2 (1).

Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz II, (Damaskus: Dar Al-Fikr, 1985).

Afrinald Rizhan. ‘Kedudukan Al-‘Adah Dan Al-‘Urf Sebagai Sumber Hukum Islam’. Jurnal Gagasan Hukum 6, no. 01 (2024): 77–93. https://doi.org/10.31849/jgh.v6i01.19526.

Fadillah, Nor. ‘TRADISI BAANTARAN JUJURAN DALAM PROSESI PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BANJAR PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN TEORI KONSTRUKSI SOSIAL’. ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 5, no. 2 (2022): 101–16. https://doi.org/10.47732/adb.v5i2.183.

Fauzi, Fauzi. ‘‘Urf and Its Role in The Development of Fiqh: Comparative Study of Famliy Law Between Egypt and Indonesia’. El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga 7, no. 1 (2024): 346. https://doi.org/10.22373/ujhk.v7i1.23968.

Furqan, Muhammad, and Syahrial Syahrial. ‘Kedudukan ‘Urf Sebagai Sumber Hukum Dalam Mazhab Syāfi’ī’. Jurnal Al-Nadhair 1, no. 2 (2022): 68–118. https://doi.org/10.61433/alnadhair.v1i2.9.

Geertz, C. The Interpretation of Cultures. Basic Books, 1973.

Hajrah, Siti, Kadenun Kadenun, and Diyan Putri Ayu. ‘Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pembayaran Jujuran Dalam Pernikahan Adat Banjar Di Kelurahan Senyerang Jambi’. Social Science Academic 1, no. 1 (2023): 87–93. https://doi.org/10.37680/ssa.v1i1.2541.

Junita, Junita, Mualimin Mualimin, and Abubakar Hm. ‘DAKWAH KULTURAL DALAM TRADISI MAANTAR JUJURAN SUKU BANJAR DI SAMUDA KOTAWARINGIN TIMUR’. Jurnal Dakwah Risalah 31, no. 2 (2021): 138. https://doi.org/10.24014/jdr.v31i2.10581.

Mursid, Fadillah, Jefry Tarantang, I. Nurol Aen, and Mustofa Mustofa. ‘‘Urf as the Legitimacy of Contemporary Sharia Economic Transactions’. JURNAL AL-QARDH 8, no. 1 (2023): 64–77. https://doi.org/10.23971/jaq.v8i1.6355.

Nugroho, Eko Rial, and Abdul Wahid. ‘Perkawinan Tradisi Jujuran Dalam Adat Bugis Perantau Di Kutai Kartangera: Suatu Kajian Perbandingan Dengan Hukum Islam’. Wajah Hukum 3, no. 2 (2019): 121. https://doi.org/10.33087/wjh.v3i2.64.

Riftiansyah, Rizki, Mohamad Abduh, Moh Rifai, M Asep Saepudin, and Martiyah Martiah. ‘Tradisi Seserahan Dalam Pelestarian Budaya Dan Kearifan Lokal Menurut Pandangan Islam’. Jurnal Citizenship Virtues 3, no. 1 (2023): 425–41. https://doi.org/10.37640/jcv.v3i1.1720.

Sanawiah, Sanawiah, and Ikbal Reza Rismanto. ‘JUJURAN ATAU MAHAR PADA MASYARAKAT SUKU BANJAR DI TINJAU DARI PERSPIKTIF PANDANGAN HUKUM ISLAM’. Jurnal Hadratul Madaniyah 8, no. 1 (2021): 52–63. https://doi.org/10.33084/jhm.v8i1.2442.

Sofiana, Anis, Pajar Ari Sinta, Erik Rahman Gumiri, and Nurhafilah Musa. ‘Tradisi Segheh Dalam Perkawinan Adat Lampung Perspektif ‘Urf Dan Maslahah Mursalah’. El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law 3, no. 2 (2022): 73–92. https://doi.org/10.24042/el-izdiwaj.v3i2.15231.

Suar, Abi, Syahrial Maulana, Zandy Pratama Zain, Lutia Yunara, and Rozalinda Rozalinda. ‘A Gift to Return: The Tradition of Wedding Gifts Wrapped in Debt Among the People of Kerinci An Islamic Perspective’. Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari’ah Dan Ahwal Al-Syakhsiyyah 7, no. 1 (2024): 1–12. https://doi.org/10.58824/mediasas.v7i1.105.

Sunarno, Ali, Anisa Dewi, Debi Rumenta Sitorus, Erni Supriyani, and Mia Handriani. ‘EKSISTENSI UANG JUJURAN DALAM PERNIKAHAN ADAT BANJAR: Perspektif Tokoh Agama Dan Generasi Muda’. Jurnal Ilmiah Muqoddimah : Jurnal Ilmu Sosial, Politik, Dan Humaniora 7, no. 2 (2023): 414. https://doi.org/10.31604/jim.v7i2.2023.414-419.

Sunarto and Cartono. ‘Adat Seserahan Dalam Pernikahan Perspektif Hukum Islam Dan Hukum Positif (Studi Kasus Di Desa Cibeunying Majenang Cilacap)’. Qonuni: Jurnal Hukum Dan Pengkajian Islam 2, no. 01 (2025): 1–14. https://doi.org/10.59833/fdn8c677.

Ulfa, Garnis Adibah, and Siti Nursanti. ‘KONSTRUKSI MAKNA DANDANG BAGI PENGANTIN PEREMPUAN Studi Fenomenologi Tentang Konstruksi Makna Dandang Bagi Pengantin Perempuan Dalam Prosesi Seserahan Pada Upacara Pernikahan Di Kabupaten Bekasi’. Jurnal Politikom Indonesiana 3, no. 1 (2018): 89. https://doi.org/10.35706/jpi.v3i1.1414.